ARTIKEL

GURU KITA TERSERANG MRS.PUFF SYNDROME

Oleh: B.Hikmah Widiawati, M.Pd.

Anda pasti heran dan bertanya-tanya penyakit apakah Mrs.Puff syndrome ini, dan apa hubungannya dengan guru? Jika anda penggemar film kartun maka anda akan ingat tokoh Mrs Puff adalah guru atau instruktur mengemudi Spongebob di kartun berjudul Spongebob Squarepants. Lalu mengapa dia menjadi syndrome untuk guru-guru di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan itu akan membuat bahasan ini menjadi seru dan menarik.

Dalam film tersebut tokoh Spongebob digambarkan sebagai anak yang bodoh tetapi ulet dan pantang menyerah. Dia mempunyai cara pandang tersendiri terhadap semua persoalan. Hal ini membuat karakternya sangat menonjol karena sering kali berpikir “out of the box”. Namun hal ini juga yang membuat dia terlihat bodoh dan culun. Sementara Mrs Puff adalah guru/instruktur yang baik hati namun dibuat tidak berdaya oleh tingkah polah Spongebob. Siswanya yang satu ini sangat rajin datang ke kelas dan tekun mengerjakan semua tugas yang diberikan Mrs Puff. Tapi tugas tersebut dikerjakan sesuai dengan pemahamannya terhadap instruksi yang diberikan gurunya, padahal maksud instruksi Mrs.Puff tidak sesuai dengan pemahamannya tentang tugas tersebut. Dan sepanjang proses belajar mengajar berlangsung dua orang ini selalu tidak “nyambung” satu sama lain. Mereka berjalan sendiri dengan kedua-duanya mempertahankan konsep mereka masing-masing. Mrs. Puff tidak mencoba memahami cara berpikir Spongebob, disisi lain Spongebob pun tidak mampu mengerti maksud sang guru. Ketika Mrs.Puff melakukan tes akhir, Spongebob selalu menjadi siswa yang tertinggal di kelas. Nilai tesnya selalu menjadi yang paling rendah.

Akhirnya suatu ketika Mrs. Puff sampai pada kesimpulan bahwa dia harus meluluskan Spongebob dengan cara apapun. Singkat cerita Mrs.Puff memberikan tes khusus kepada Spongebob supaya bisa mencapai nilai kelulusan yang ditentukan oleh sekolah mengemudi tersebut. Dengan cara ini Spongebob bisa mndapat standar nilai lulus yang ditentukan. Dia mendapatkan Surat Izin Mengemudi yang dia impi-impikan dan Mrs.Puff merasa lega dan terbebas dari beban berat yang dia sandang dalam mengajar Spongebob. Keduanya merasa senang dan bahagia.

Namun ternyata masalah tidak selesai dengan begitu saja, ketika Spongebob merayakan keberhasilannya mendapatkan S.I.M baru dengan mengendarai “carboat”-nya berkeliling Bikini bottom masalah yang sebenarnya mulai muncul. Spongebob menabrak dan menyerempet semua mobil yang berpapasan dengannya dan berakhir di kantor polisi. Polisi Bikini bottom mengusut kenapa anak yang belum cakap mengemudi bisa mendapatkan S.I.M. Mendengar hal tersebut Mrs.Puff langsung ke kantor polisi dan mengatakan bahwa Spongebob adalah siswanya dan masih mengemudi dalam pengawasannya. Alhasil polisi menetapkan Mrs.Puff bersalah karena melalaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru/instruktur. Untuk kesalahan tersebut Mrs.Puff dihukum penjara dan hukuman tambahan harus memberikan pelajaran mengemudi kepada Spongebob sampai Spongebob benar-benar lulus.

Jika dipikir-pikir kisah diatas sebenarnya tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dihadapi guru di dalam kelas. Selama berabad-abad hubungan guru dan murid menjadi hubungan sebab akibat yang terus dipelajari dan mengusik alam bawah sadar kita. Banyak siswa kita menempati posisi seperti Sponge Bob, selalu berusaha dengan sungguh-sungguh namun hasil yang didapatkannya  tidak sesuai dengan target yang diberikan gurunya. Hal tersebut mungkin bukan karena dia bodoh atau tidak mampu belajar, akan tetapi mungkin karena gurunya tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mengekspresikan dirinya seperti yang dia inginkan. Atau mungkin dia jadi tidak berusaha sungguh-sungguh, dia menjadi uring-uringan dan tidak focus, dan tidak tertarik dengan pelajaran yang disajikan guru didalam kelas. Kenapa demikian? Timbul pertanyaan yang menggigit kesadaran kita.

Ada banyak factor yang mungkin bisa menjadi penyebab hal ini. Menurut Ki Hadjar Dewantara, Tuntutan kodrati anak selalu ingin merdeka sejak dari kandungan, menangis bila kehausan, hingga jiwa merdeka saat dewasa . Kemerdekaan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikaan diri sesuai dengan keinginannya, kemerdekaan juga menuntun siswa mengeksplorasi bakat dan minat yang terpendam dalam diri mereka. Hak anak untuk mengatur dirinya sendiri tanpa mengesampingkan syarat tertib damainya hidup bermasyarakat.Berlainan dengan konsep dari Maria Montessori dengan konsep Absolute Vrijheid (jiwa merdeka mutlak) sejajar dengan liberalisme.

Sistem among melarang pelaksanaan hukuman dan pemaksaan dalam kegiatan belaja mengajar karena akan menghambat pertumbuhan jiwa merdeka sang anak. Sanksi kepada siswa harus seimbang, netral dan adil. Sikap suka kinder spellen sebagai “embrio jiwa merdeka” siswa melancarkan proses Tringa (Ngerti, Ngrasa, Nglakoni) selaras dengan trilogi Cipta, Rasa, Karsa (Globaliteit Psychologie).

Menurut Ki Priyo dari Majelis Perguruan Taman Siswa, Trilogi Pendidikan Taman siswa yang pertama yaitu “Tut wuri handayani” mengandung prinsip memerdekakan siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya, sedang guru/pamong membina dari belakang tidak boleh sekedar mendikte. Diutamakan pada tingkat Taman Muda atau sekarang dikenal dengan Sekolah Dasar. Sedangkan yang kedua adalah “Ing Madya Mangun Karsa” mendorong siswa agar dapat proaktif berbaur dan memotivasi siswa dalam proses belajar mengajar, guna aktif meningkatkan kualitas pendidikan (setiakawan, kerjasama, kreatif, inovasi, melakukan praktek) pada tingkat Pendidikan Dasar hingga Perguruan Tinggi. Dan yang ketiga “Ing Ngarso Sung Tulodho” yang berarti memberi teladan kepada siswa agar dapat menjadi contoh bagi sesama dan yuniornya. Pengabdian kepada sesama dan masyarakat dengan semboyan ilmu amaliah dan amal ilmiah, demi kemaslahatan masyarakat luas bukan sekedar untuk golongan atau pribadinya.

Ada hal penting yang juga menjadi panduan diperguruan Taman Siswa yang akan  sangat bermanfaat untuk para pendidik mengembangkan pembelajaran di zaman yang tidak menentu ini. Panduan itu adalah  “Trikon” . Trikon ini digunakan sebagai Kiat Mengelola Kebudayaan Bangsa .

Adapun yang dimaksudkan dengan Trikon ini adalah, yang pertama konvergen yang berarti tidak menutup diri terhadap kebudayaan dunia, yang berikutnya adalah konsentris yang artinya berpegang teguh terhadap kebudayaan sendiri, memperkuat kepribadian nasional dan yang terakhir adalah mengolah budaya bangsa secara berkesinambungan dari masa lalu masa kini dan masa yang akan datang. Sehingga pada akhirnya nanti tercapailah tujuan memanusiakan manusia.Seperti yang selalu diucapkan Ki Hajdjar Dewantara yaitu cita-cita lahir batin manusia adalah hidup salam dan bahagia, selamat lahirnya dan bahagia batinnya, dicapai dengan kecukupan lahirnya dan bebas merdeka jiwanya, bebas dari gangguan lahir batin dan ketakutan.

Menilik dari bahasan diatas betapa selama ini banyak hal yang mungkin belum sepenuhnya kita lakukan sebagai guru. Kita tidak benar-benar mengenali siswa siswi yang kita didik dan ajar. Kita cenderung menempatkan diri sebagai Mrs. Puff yang tidak mengenali sifat dan karakter SpongeBob dan berasumsi bahwa siswa dan siswi kita sudah nyaman, bahagia dan paham dengan apa yang kita sampaikan. Disatu sisi siswa dan siswi kita tidak berani megungkapkan keadaan yang sebenarnya kepada gurunya tapi memakai gaya komunikasi yang berbeda seperti malas belajar, tidur di kelas, bolos bahkan tawuran.

Ketidaknyambungan komunikasi ini kita harapkan berhenti sampai disini. Mari kita memulai menjadi guru yang belajar memerdekakan siswa siswi kita untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemaran mereka dengan mengarahkan mereka secara sungguh-sungguh.Membimbing mereka menjadi orang-orang yang bahagia secara lahir bathin, bijaksana dalam keunikannya serta menghargai keberagamannya sebagai anugrah terindah dari sang maha kuasa.Dengan demikian mereka akan bisa membuat bangsa ini berdiri tegak secara terhormat dalam  kancah pergaulan dunia yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Pada saat itu barulah kita bisa bernafas lega dan mendorong generasi kita untuk terus merdeka belajar.

Published by bq-wiwixs

English Teacher SPendasel Crew

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: