Featured

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN,MENUMBUHKAN MERDEKA BELAJAR DI SEKOLAH

Setiap Anak Istimewa, Setiap manusia berguna, oleh sebab itu maka untuk membantu anak mengenali dirinya sehingga keistimewaan yang ada pada anak dapat bangkit dan keluar, dalam dunia pendidikan butuh Guru. Guru yang bisa membangkitkan dan mengembangkan potensi anak sehingga anak sebagai manusia dan angota masyarakat dapat mencapai selamat dan bahagia.

Beberapa peran guru sesuai dengan tiga dasar pendidikan menurut KI Hajar Dewantara, bahwasannya guru dapat berperan sebagai aktor dan aktris yang semua tindak tanduknya dicontoh oleh siswa, guru dapat menjadi teman yang dapat membangkitkan kreatifitas siswa, dan guru juga dapat bertindak sebagai pemberi semangat bagi siswa-siswanya.

Oleh karena berbagai macam peran guru bagi siswanya, maka sebagai guru harus “merdeka” terlebih dahulu dalam artian bahwa guru diberikan kemerdekaan dalam berfikir untuk memunculkan ide-ide kreatif, mandiri dalam menentukan cara terbaik dalam proses pembelajaran sehingga dengan kemerdekaan guru maka akan berimbas kepada kemerdekaan siswa dalam belajar.

Merdeka bagi siswa adalah bahwa dalam mengikuti pembelajaran mendapatkan suasana belajar yang membahagiakan dan tetap bertanggung jawab sebagai seorang siswa sehingga dapat menciptakan pelajar yang memiliki profil pelajar pancasila.

Dalam mewujudkan siswa yang memiliki profil pelajar pancasila, maka sebagai  pendidik harus memiliki nilai-nilai yang baik yang tertanam di dalam diri seorang guru, antara lain:

  1. Mandiri, dalam arti kata tidak bergantung pada orang lain, berusaha semaksimal mungkin dalam melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab demi kemajuan siswanya.
  2. Berfikir Reflektif, bahwasannya seorang guru mampu menemukan ide-ide kritis pada diri sendiri dengan selalu berfikir positif, mempunyai keyakinan untuk berkembang, dan Tanggap Terhadap perubahan.
  3. Kolaboratif, yaitu seorang guru dapat berinteraksi dengan baik dalam suatu lingkungan sekolah sehingga terbinanya kerjasama yang baik antara guru tersebut dengan semua pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal dengan mengutamakan kompromi demi tujuan yang berpihak pada siswa.
  4. Inovatif, Adalah sebagai seorang guru tidak kehabisan akal dalam menciptakan hal-hal yang baru, memaksimalkan sarana yang ada di sekolah,  misalnya dalam pembelajaran guna mengakomodir kebutuhan belajar siswa untuk pencapaian kompetensi siswa.
  5. Berpusat Pada Murid, adalah seorang guru dengan sepenuh hati mendampingi siswanya dengan segala kodrat yang dimiliki oleh masing-masing siswa tersebut.

Dengan adanya nilai-nilai baik yang tertanam pada diri seorang guru maka nilai tersebut secara langsung atau tidak langsung dapat tertanam dalam diri siswanya melalui pembiasaan yang baik yang akhirnya menjadi bagian dari kepribadian siswa atau yang kita kenal dengan nilai intrinsik siswa.

Oleh karena didalam diri seorang guru telah tertanam nilai-nilai  yang baik yang bertujuan untuk kemajuan siswanya, maka segala keputusan yang terbaik yang akan diambil adalah keputusan yang berpihak kepada siswanya. Sebagai pemimpin dalam pembelajaran, maka dalam pengambilan keputusan akan berusaha mengambil keputusan yang berisi kebajikan yang diakui oleh semua orang seperti jujur, tanggung jawab, peduli, kasih sayang dan berprinsip bahwa keputusan tersebut diutamakan untuk kepentingan siswa.

Dilema seorang guru sebagai pemimpin dalam mengambil keputusan pasti ada, apalagi keputusan yang akan diambil adalah bersifat mendadak dan reflek, disamping itu, tanpa disadari bahwa tidak ada aturan baku yang berlaku untuk memutuskan situasi dilema karena hal ini sifatnya relatif dan bergantung pada situasi dan kondisi yang terjadi pada saat kejadian atau bisa kita namai dengan dilemma etika.

Artinya adalah hal ini dapat dimaknai bahwa terkadang adalah hal yang benar untuk memegang aturan demi suatu keadilan, akan tetapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang dapat dibenarkan.

Demikian pula sebaliknya ketika dihadapkan dengan situasi bujukan moral (Benar Vs Salah) bahwa dalam melakukan hal yang salah walaupun untuk alasan yang baik tetap saja salah. Contohnya siswa mencontek, walau pun tujuannya untuk mendapatkan nilai yang baik yang tentuanya juga merupakan hal yang baik, tetap hal itu adalah suatu kesalahan.

Karena dilema etika berhubungan dengan pengambilan keputusan yang bertujuan untuk kebaikan, yaitu situasi dimana ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan yang akan diambil tersebut secara etika benar tetapi bertentangan. Kedua keputusan yang bertentangan tersebut kalaupun diambil kedua-duanya adalah sama-sama dibenarkan (Benar Vs Benar).

Dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kerja, masyarakat, dan rumah, kita sering kali dihadapkan pada situasi yang membawa dilema etika. Dimana keputusan mengenai perilaku yang layak harus dibuat.

Pengambilan keputusan yang berhubungan dengan dilema etika ini adalah dengan alasan bahwa tujuan yang diambil adalah tujuan baik ataupun dengan melakukan pembenaran terhadap cara-cara pengambilan keputusan tersebut, yang akhirnya akan menggoda seorang pengambil keputusan untuk mengambil jalan pintas dalam pengambilan keputusan ini karna hasil akhirnya dianggap menjadi hal yang baik.

Sedangkan bujukan moral adalah sustu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Sebelum  pengambilan keputusan yang berhubungan dengan bujukan moral ini sebaiknya dilihat terlebih dahulu dari aspek “seharusnya”, yaitu sebuah pertanyaan normatif tentang apa yang seharusnya terjadi sesuai dengan norma dan standar yang berlaku.

Apabila keputusan yang diambil mengandung unsur dilemma etika, Maka keputusan yang akan diambil  didasarkan pada 3 prinsip pengambilan keputusan ini, yaitu:

  1. Berfikit berbasis hasil akhir (end-based thinking)
  2. Berfikir berbasis peraturan (rule-based thinking)
  3. Berfikir berbasis rasa peduli (care-based thinking)

Dan juga keputusan yang berkaitan dengan dilema etika, mengandung 4 paradigma pengambilan keputusan, yaitu:

  1. Individu Vs Masyarakat (individual Vs community). Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar dimana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompo kecil melawan kelompok besar.
  • Rasa Keadilan Vs Rasa Kasihan (justice Vs mercy). Dalam paradigm ini ada pilihan anatara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakukan yang sama bagi semua orang disatu sisi dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih saying disis lain.
  • Kebenaran Vs Kesetiaan (trush Vs loyalty). Kejujuran dan kesetiaan sering kali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilemma etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
  • Jangka pendek Vs jangka panjang (short term Vs long term). Paradigma ini paling sering terjadi dan  mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara kelihatannya  terbaik untuk saat ini dan terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dan lain-lain.

Untuk mengukur efektifkah keputusan yang saya ambil, maka keputusan yang diambil tersebut dikaitkan dengan 9 langkah dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan Dilema etika, yaitu:

  1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Ada 2 alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian keputusan. Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. Alasan yang kedua adalah karena langkah ini akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial.

Untuk mengenali hal ini bukanlah hal yang mudah. Kalau kita terlalu berlebihan dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan yang paling kecil pun. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika lagi.

  • Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu. Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan bukanlah pertanyaan apakah ini dilema saya atau bukan. Karena dalam hubungannya dengan permasalahan moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.

  • Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya.

Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karena dilema etika tidak menyangkut hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin dalam situasi tersebut. Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja yang potensial akan terjadi di waktu yang akan datang.

  • Pengujian benar atau salah
  • Uji Legal

Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral.

  • Uji Regulasi/Standar Profesional

Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

  • Uji Intuisi

Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.

  • Uji Halaman Depan Koran

Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi dilema etika.

  • Uji Panutan/Idola

Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda.

Yang perlu dicatat dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu:

  • Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam.
  • Uji halaman depan koran, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir.
  • Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), di mana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda meletakkan diri Anda pada posisi orang lain.

Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil risiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral.

  • Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi ini?

  • Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  • Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  • Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  • Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

  • Melakukan Prinsip Resolusi

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?

  • Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
  • Investigasi Opsi Trilema

Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah.

  • Buat Keputusan

Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.

  • Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

Semoga dalam praktik di lapangan sebagai seorang guru dapat melaksanakan tahapan pengambilan keputusan yang berpihak kepada siswa, dan dapat diterima oleh banyak orang.

PRATAP TRILOKA KI HAJAR DEWANATARA DAN MERDEKA BELAJAR DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

Ki Hajar Dewantara adalah seorang tokoh pendidikan Indonesia yang susah dicari tandingannya. Beliau adalah anugrah terindah untuk dunia pendidikan Indonesia.Meski zaman beliau dengan era sekarang begitu jauh terpisah namun ajaran, petuah dan teladan beliau masih selalu up to date . Tuntunan beliau dalam mendidik anak bangsa tidak lekang dimakan zaman bahkan terbarukan setiap saat karena berbagai sudut pandang terbuka lebih lebar lagi ketika pemikiran-pemikiran beliau dieksplorasi dan dielaborasi. Pratap Triloka sebagai inti ajaran beliau ditafsirkan dalam berbagai bentuk yang terus berkembang dan membuka semua celah baru dengan presfektif yang berbeda. Sebagai dasar tuntunan untuk pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran Protap Triloka menjadi pedoman yang harus diikuti.

  1. Ing Ngarso Sung Tulodo

Atau di dalam Bahasa Indonesianya menjadi di depan menjadi teladan adalah kata-kata yang benar-benar harus dipedomani oleh seluruh guru di Indonesia. Jika petuah ini tidak diindahkan maka bisa dikatakan kita gagal sebagai guru. Dalam semua keputusan yang diambil didepan kelas maupun dilauar kelas sebagai pemimpin pembelajaran guru tetap adalag teladan,contoh,role model bagi siswa siswinya. Dia adalah orang dewasa pertama yang akan menjadi pusat perhatian siswa siswi tersebut diluar lingkungan keluarganya. Ketika mereka menginjakkan kakinya di sekolah maka semua hal tentang sosok guru akan menjadi pusat perhatian siswanya, mereka akan menganggap semua hal yang dilakukan gurunya adalah hal yang hebat dan terkeren yang pernah mereka lihat. Bahkan mereka akan mulai membandingkan tindak tanduk gurunya dengan orang tuanya dirumah, bahkan lagi mereka akan megabaikan semua perintah orang tuanya jika hal itu bertentangan dengan ajaran yang diberikan oleh gurunya. Melihat betapa hebatnya pengaruh seorang guru untuk murid-muridnya sebgai peletak dasar nilai dan sikap maka benar-benar Protap Triloka harus menjadi panduan baku yang harus menuntun sikap dan tutur kata seorang guru setiap saat. Pengambilan keputusan sekecil apapun haruslah merujuk kepada tuntunan protap Triloka yang pertama ini. Sebuah pepatah yang menunjukkan betapa dahsyatnya pengaruh tuntunan ini adalah “Guru kencing berdiri maka murid akan kencing berlari”.

2.Ing Madyo Mangun Karso.

Dalam Bahasa Indoneisa berarti “di tengah membangun kemauan”. Dalam tahap pengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran protap kedua ini menjadi tuntunan yang menginspirasi. Jika protap pertama terkesan lebih tegas dan baku maka protap kedua ini terkesan ramah dan bersahabat. Sosok guru yang terlihat dalam tuntunan ini menggambarkan orang yang antusias,motivator handal,komunikator yang lihay dan pemberi ide yang cemerlang. Sosok guru ini akan membuat siswa siswinya merasa nyaman berada disekitarnya. Banyak hal besar, ide-ide cemerlang akan hadir dalam suasana tuntunan yang kondusif, siswa siswi berkembang dengan sangat pesat jika diberikan kesempatan yang tepat dengan arahan yang tepat. Kadang-kadang guru tidak terlalu butuh untuk mengajarkan sesuatu kepada siswa karena di era seperti sekarang ini siswa siswi kita bisa mendapatkan ilmu dari berbagai sumber yang tidak terbatas di sekiar mereka. Apa yang perlu dilakukan guru hanya memberi ide, memotivasi dan mendorong kemauan siswa untuk bergerak kearah yang tepat. Siswa dituntun untuk memilih sendiri apa yang mereka inginkan ,dengan cara apa, dengan target yang seperti apa. Dan ketika segala sesuatu dilakukan dengan kemauan sendiri dengan suasana yang menyenangkan maka target pencapaian menjadi sangat tak terbatas. Berbagai kemungkinan bisa timbul, berbagai kesempatan bisa tercipta, dan alangkah indahnya jika semua siswa mendapatkan kesempatan yang sama . Alangkah beragamnya yang akan tercipta di masa depan dengan tuntunan ini. Siswa siswi bergerak bersama dengan tujuan yang jelas, dengan cara yang mereka pilih sendiri dan target yang mereka tetapkan sendiri. Kemampuan memaksimalkan daya juang, hanya ada pada masing-masing pribadi siswa tapi switch atau tombol yang menghidupkan poin ini ada pada guru-guru hebat yang bekerja tanpa pamrih dan mencintai dan mengayomi siswa siswinya dengan pantang menyerah. Mereka mengenal siswa siswinya seperti membalikkan telapak tangannya, hubungan guru dan siswa dalam tahapan ini tidak bisa dipahami hanya dengan melihat dengan kasat mata karena tali bathin antara mereka akan terus tersambung dalam keadaan apapun dengan hambatan sebesar apapun. Dan tuntunan protap triloka yang kedua inilah yang mewarnai setiap pengambilan keputusan yang akan diambil oleh guru dalam hubungannya dengan siswa siswinya.

3.Tut Wuri Handayani

Dalam Bahasa Indonesia Tut Wuri Handayani berarti “Dibelakang memberi dorongan dan pengaruh”. Hubungannya dengan pengambilan keputusan adalah dimana seorang pemimpin harus benar-benar mengambil keputusan dengan baik. Seorang guru yang merupakan pemimpin pembelajaran di kelas akan selalu dihadapkan pada situasi ketika dia harus mengambil keputusan segera, bagaimana dia mempertimbangkan bahwa keputusan yang dia ambil akan berdampak baik untuk semua pihak. Untuk siswa ,untuk sekolah,dan untuk semua orang yang terlibat dalam masalah tersebut, Jika seorang guru menemukan siswanya bersalah tidak serta merta langsung memberikan hukuman. Sebaiknya guru mengkomunikasikan terlebih dahulu sebenarmya apa duduk persoalan dari masalah tersebut,baru kemudian guru memberikan hukuman yang mendidik dan tidak merugikan siswa dalam proses belajar mengajar. Dalam perkembangannya masih banyak kita melihat guru memberikan hukuman yang merugikan siswa, karena di hukum siswa tidak jadi belajar. Sehingga siswa tidak mendapatkan haknya di sekolah. Seorang guru yang bijak hendaknya memberikan hukuman yang tidak mengurangi hak siswa tersebut. Misalnya hukumanya disesuaikan dengan kesalahan yang dia lakukan, jika dia tidak mengerjakan tugas rumahnya maka sang anak harus menyelesaikan tugas rumah tersebut dengan tambahan tugas lain sehingga memberi efek jera kepada sang anak karena jika dia tidak mengerjakan maka dia akan mengerjakan tugas dua kail lipat dari tugas sebelumnya. dan dalam pantauan guru setelah jam pelajaran selesai.Konsekwensi ini akan membuat si anak harus mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh dalam pengawasan dan akan telat pulang sekolah.

Mendorong siswa untuk memaksimalkan kemampuan dan sumber daya yang ada didalam dirinya adalah tujuan utama protap ketiga ini. Banyak siswa biasanya jauh lebih peduli dengan apa yang dikatakan gurunya daripada orang tuanya,hal ini memberi peluang kepada guru untuk memberi pengaruh-pengaruh positif yang akan mendorong siswa memaksimalkan kemampuan dirinya.Banyak hal mengejutkan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya akan kita dapatkan ketika proses belajar mengajar berlangsung, Siswa siswi yang sangat tidak terduga tersebut adalah sumber energy yang selalu terbarukan setiap saat. Namun memang semua proses ini membutuhkan kesabaran tingkat dewa dan sebagai guru harus punya ketahaanan untuk melalui proses ini dengan gemilang.

4. Nilai-Nilai Baik Akan Menumbuhkan Kebaikan

Sekolah sebagai suatu organisasi dituntut untuk menjalankan tugasnya untuk membentuk siswa berkarakter. Untuk mewujudkan hal tersebut maka peran guru di sekolah adalah ujung tombak yang akan melaksanakan tugas berat tersebut. Merunut kepada tugas tersebut maka satu hal yang perlu diingat terlebih dahulu yaitu bahwa jika kita ingin menanamkan kebaikan maka si penanam harus mempunyai sifat baik tersebut terlebih dahulu. Karakter yang baik,yang santun yang berdedikasi ,yang patut menjadi teladan bagi anak didik. Jika anda menjadi seorang guru yang dituntut untuk menanamkan kebaikan kepada siswa maka sebelum hal itu anda lakukan berusahalah memperbaiki sikap, memperbaiki tutur kata,belajar ilmu ikhlas dan sabar. Karena proses ini akan berjalan seumur hidup jadi sambil menjalani kita terus berproses menjadi lebih baik. Siswa siswi kita yang sangat beragam dengan latar belakang dan kebiasaan yang berbeda-beda,sifat dasar yang berbeda pula,tentu juga mempunyai cara pandang dan cara mendapatkan pengaruhnya berbeda. Ketika suatu stimulus berjalan baik untuk seseorang bukan berarti stimulus yang sama bisa berjalan dengan baik juga untuk orang lain. Pemahaman ini semestinya menjadi pedoman buat kita bahwa proses mendidik adalah proses belajar yang tidak habis-habisnya. Dan nilai-nilai baik yang kita yakini dan kita pedomani ini akan menjadi tolak ukur kita untuk mengambil setiap keputusan dalam kehidupan kita,termasuk keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Nilai-nilai baik ini akan menuntun kita untuk mengambil keputusan yang tepat karena kadang-kadang rasionalitas tidak berjalan seperti yang kita harapkan dan sering kali hati lebih bisa merasakan kebaikan dan keadilan yang sesungguhnya. Kemerdekaan untuk menentukan sikap sebagai pemimpin pembelajaran membuat suasana kelas kemudian kita arahkan kepada merdeka belajar yang sesungguhnya,

Oleh karena berbagai macam peran guru bagi siswanya, maka sebagai guru harus “merdeka” terlebih dahulu dalam artian bahwa guru diberikan kemerdekaan dalam berfikir untuk memunculkan ide-ide kreatif, mandiri dalam menentukan cara terbaik dalam proses pembelajaran sehingga dengan kemerdekaan guru maka akan berimbas kepada kemerdekaan siswa dalam belajar.

Merdeka bagi siswa adalah bahwa dalam mengikuti pembelajaran mendapatkan suasana belajar yang membahagiakan dan tetap bertanggung jawab sebagai seorang siswa sehingga dapat menciptakan pelajar yang memiliki profil pelajar pancasila.

Dalam mewujudkan siswa yang memiliki profil pelajar pancasila, maka sebagai  pendidik harus memiliki nilai-nilai yang baik yang tertanam di dalam diri seorang guru, antara lain:

  1. Mandiri, dalam arti kata tidak bergantung pada orang lain, berusaha semaksimal mungkin dalam melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab demi kemajuan siswanya.
  2. Berfikir Reflektif, bahwasannya seorang guru mampu menemukan ide-ide kritis pada diri sendiri dengan selalu berfikir positif, mempunyai keyakinan untuk berkembang, dan Tanggap Terhadap perubahan.
  3. Kolaboratif, yaitu seorang guru dapat berinteraksi dengan baik dalam suatu lingkungan sekolah sehingga terbinanya kerjasama yang baik antara guru tersebut dengan semua pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal dengan mengutamakan kompromi demi tujuan yang berpihak pada siswa.
  4. Inovatif, Adalah sebagai seorang guru tidak kehabisan akal dalam menciptakan hal-hal yang baru, memaksimalkan sarana yang ada di sekolah,  misalnya dalam pembelajaran guna mengakomodir kebutuhan belajar siswa untuk pencapaian kompetensi siswa.
  5. Berpusat Pada Murid, adalah seorang guru dengan sepenuh hati mendampingi siswanya dengan segala kodrat yang dimiliki oleh masing-masing siswa tersebut.

Dengan adanya nilai-nilai baik yang tertanam pada diri seorang guru maka nilai tersebut secara langsung atau tidak langsung dapat tertanam dalam diri siswanya melalui pembiasaan yang baik yang akhirnya menjadi bagian dari kepribadian siswa atau yang kita kenal dengan nilai intrinsik siswa.

Oleh karena didalam diri seorang guru telah tertanam nilai-nilai  yang baik yang bertujuan untuk kemajuan siswanya, maka segala keputusan yang terbaik yang akan diambil adalah keputusan yang berpihak kepada siswanya. Sebagai pemimpin dalam pembelajaran, maka dalam pengambilan keputusan akan berusaha mengambil keputusan yang berisi kebajikan yang diakui oleh semua orang seperti jujur, tanggung jawab, peduli, kasih sayang dan berprinsip bahwa keputusan tersebut diutamakan untuk kepentingan siswa.

5.Dilema Yang Tak Kunjung Padam

Dilema seorang guru sebagai pemimpin dalam mengambil keputusan pasti ada, apalagi keputusan yang akan diambil adalah bersifat mendadak dan reflek, disamping itu, tanpa disadari bahwa tidak ada aturan baku yang berlaku untuk memutuskan situasi dilema karena hal ini sifatnya relatif dan bergantung pada situasi dan kondisi yang terjadi pada saat kejadian atau bisa kita namai dengan dilemma etika.

Artinya adalah hal ini dapat dimaknai bahwa terkadang adalah hal yang benar untuk memegang aturan demi suatu keadilan, akan tetapi terkadang membuat pengecualian juga merupakan tindakan yang dapat dibenarkan.

Demikian pula sebaliknya ketika dihadapkan dengan situasi bujukan moral (Benar Vs Salah) bahwa dalam melakukan hal yang salah walaupun untuk alasan yang baik tetap saja salah. Contohnya siswa mencontek, walau pun tujuannya untuk mendapatkan nilai yang baik yang tentuanya juga merupakan hal yang baik, tetap hal itu adalah suatu kesalahan.

Karena dilema etika berhubungan dengan pengambilan keputusan yang bertujuan untuk kebaikan, yaitu situasi dimana ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan dimana kedua pilihan yang akan diambil tersebut secara etika benar tetapi bertentangan. Kedua keputusan yang bertentangan tersebut kalaupun diambil kedua-duanya adalah sama-sama dibenarkan (Benar Vs Benar).

Dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kerja, masyarakat, dan rumah, kita sering kali dihadapkan pada situasi yang membawa dilema etika. Dimana keputusan mengenai perilaku yang layak harus dibuat.

Pengambilan keputusan yang berhubungan dengan dilema etika ini adalah dengan alasan bahwa tujuan yang diambil adalah tujuan baik ataupun dengan melakukan pembenaran terhadap cara-cara pengambilan keputusan tersebut, yang akhirnya akan menggoda seorang pengambil keputusan untuk mengambil jalan pintas dalam pengambilan keputusan ini karna hasil akhirnya dianggap menjadi hal yang baik.

Sedangkan bujukan moral adalah sustu situasi yang terjadi ketika seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Sebelum  pengambilan keputusan yang berhubungan dengan bujukan moral ini sebaiknya dilihat terlebih dahulu dari aspek “seharusnya”, yaitu sebuah pertanyaan normatif tentang apa yang seharusnya terjadi sesuai dengan norma dan standar yang berlaku.

Apabila keputusan yang diambil mengandung unsur dilemma etika, Maka keputusan yang akan diambil  didasarkan pada 3 prinsip pengambilan keputusan ini, yaitu:

  1. Berfikit berbasis hasil akhir (end-based thinking)
  2. Berfikir berbasis peraturan (rule-based thinking)
  3. Berfikir berbasis rasa peduli (care-based thinking)

Dan juga keputusan yang berkaitan dengan dilema etika, mengandung 4 paradigma pengambilan keputusan, yaitu:

  1. Individu Vs Masyarakat (individual Vs community). Dalam paradigma ini ada pertentangan antara individu yang berdiri sendiri melawan sebuah kelompok yang lebih besar dimana individu ini juga menjadi bagiannya. Bisa juga konflik antara kepentingan pribadi melawan kepentingan orang lain, atau kelompo kecil melawan kelompok besar.
  • Rasa Keadilan Vs Rasa Kasihan (justice Vs mercy). Dalam paradigm ini ada pilihan anatara mengikuti aturan tertulis atau tidak mengikuti aturan sepenuhnya. Pilihan yang ada adalah memilih antara keadilan dan perlakukan yang sama bagi semua orang disatu sisi dan membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih saying disis lain.
  • Kebenaran Vs Kesetiaan (trush Vs loyalty). Kejujuran dan kesetiaan sering kali menjadi nilai-nilai yang bertentangan dalam situasi dilemma etika. Kadang kita perlu untuk membuat pilihan antara berlaku jujur dan berlaku setia (atau bertanggung jawab) kepada orang lain. Apakah kita akan jujur menyampaikan informasi berdasarkan fakta atau kita menjunjung nilai kesetiaan pada profesi, kelompok tertentu, atau komitmen yang telah dibuat sebelumnya.
  • Jangka pendek Vs jangka panjang (short term Vs long term). Paradigma ini paling sering terjadi dan  mudah diamati. Kadang perlu untuk memilih antara kelihatannya  terbaik untuk saat ini dan terbaik untuk masa yang akan datang. Paradigma ini bisa terjadi di level personal dan permasalahan sehari-hari atau pada level yang lebih luas, misalnya pada issue-issue dunia secara global, misalnya lingkungan hidup dan lain-lain.

Untuk mengukur efektifkah keputusan yang saya ambil, maka keputusan yang diambil tersebut dikaitkan dengan 9 langkah dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan Dilema etika, yaitu:

  1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Ada 2 alasan mengapa langkah ini adalah langkah yang penting dalam pengujian keputusan. Alasan yang pertama, langkah ini mengharuskan kita untuk mengidentifikasi masalah yang perlu diperhatikan, alih-alih langsung mengambil keputusan tanpa menilainya dengan lebih saksama. Alasan yang kedua adalah karena langkah ini akan membuat kita menyaring masalah yang betul-betul berhubungan dengan aspek moral, bukan masalah yang berhubungan dengan sopan santun dan norma sosial.

Untuk mengenali hal ini bukanlah hal yang mudah. Kalau kita terlalu berlebihan dalam menerapkan langkah ini, dapat membuat kita menjadi orang yang terlalu mendewakan aspek moral, sehingga kita akan mempermasalahkan setiap kesalahan yang paling kecil pun. Sebaliknya bila kita terlalu permisif, maka kita bisa menjadi apatis dan tidak bisa mengenali aspek-aspek permasalahan etika lagi.

  • Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini.

Bila kita telah mengenali bahwa ada masalah moral di situasi tertentu. Pertanyaannya adalah dilema siapakah ini? Hal yang seharusnya membedakan bukanlah pertanyaan apakah ini dilema saya atau bukan. Karena dalam hubungannya dengan permasalahan moral, kita semua seharusnya merasa terpanggil.

  • Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini.

Pengambilan keputusan yang baik membutuhkan data yang lengkap dan detail, seperti misalnya apa yang terjadi di awal situasi tersebut, bagaimana hal itu terkuak, dan apa yang akhirnya terjadi, siapa berkata apa pada siapa, kapan mereka mengatakannya.

Data-data tersebut penting untuk kita ketahui karena dilema etika tidak menyangkut hal-hal yang bersifat teori, namun ada faktor-faktor pendorong dan penarik yang nyata di mana data yang mendetail akan bisa menggambarkan alasan seseorang melakukan sesuatu dan kepribadian seseorang akan tercermin dalam situasi tersebut. Hal yang juga penting di sini adalah analisis terhadap hal-hal apa saja yang potensial akan terjadi di waktu yang akan datang.

  • Pengujian benar atau salah
  • Uji Legal

Pertanyaan yang harus diajukan disini adalah apakah dilema etika itu menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral.

  • Uji Regulasi/Standar Profesional

Bila dilema etika tidak memiliki aspek pelanggaran hukum di dalamnya, mungkin ada pelanggaran peraturan atau kode etik. Konflik yang terjadi pada seorang wartawan yang harus melindungi sumber beritanya, seorang agen real estate yang tahu bahwa seorang calon pembeli potensial sebelumnya telah dihubungi oleh koleganya? Anda tidak bisa dihukum karena melanggar kode etik profesi Anda, tapi Anda akan kehilangan respek sehubungan dengan profesi Anda.

  • Uji Intuisi

Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Apakah tindakan ini mengandung hal-hal yang akan membuat Anda merasa dicurigai. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. Walaupun mungkin Anda tidak bisa dengan jelas dan langsung menunjuk permasalahannya ada di mana. Langkah ini, untuk banyak orang, sangat umum dan bisa diandalkan untuk melihat dilema etika yang melibatkan dua nilai yang sama-sama benar.

  • Uji Halaman Depan Koran

Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi dilema etika.

  • Uji Panutan/Idola

Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda.

Yang perlu dicatat dari kelima uji keputusan tadi, ada tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu:

  • Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking) yang tidak bertanya tentang konsekuensi tapi bertanya tentang prinsip-prinsip yang mendalam.
  • Uji halaman depan koran, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir.
  • Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), di mana ini berhubungan dengan golden rule yang meminta Anda meletakkan diri Anda pada posisi orang lain.

Bila situasi dilema etika yang Anda hadapi, gagal di salah satu uji keputusan tersebut atau bahkan lebih dari satu, maka sebaiknya jangan mengambil risiko membuat keputusan yang membahayakan atau merugikan diri Anda karena situasi yang Anda hadapi bukanlah situasi moral dilema, namun bujukan moral.

  • Pengujian Paradigma Benar lawan Benar.

Dari keempat paradigma berikut ini, paradigma mana yang terjadi di situasi ini?

  • Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  • Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  • Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  • Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Apa pentingnya mengidentifikasi paradigma, ini bukan hanya mengelompokkan permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

  • Melakukan Prinsip Resolusi

Dari 3 prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai?

  • Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
  • Investigasi Opsi Trilema

Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah.

  • Buat Keputusan

Akhirnya kita akan sampai pada titik di mana kita harus membuat keputusan yang membutuhkan keberanian secara moral untuk melakukannya.

  • Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan

Ketika keputusan sudah diambil. Lihat kembali proses pengambilan keputusan dan ambil pelajarannya untuk dijadikan acuan bagi kasus-kasus selanjutnya.

Semoga dalam praktik di lapangan sebagai seorang guru dapat melaksanakan tahapan pengambilan keputusan yang berpihak kepada siswa, dan dapat diterima oleh banyak orang.

KESIMPULAN

 Modul 3.1 adalah modul yang benar-benar menantang dan memberi tuntunan yang sangat penting buat kami para guru di lapangan. Modul ini menunjukkan kepada kami semua masalah yang setiap saat kami hadapi di sekolah dan memberikan trik-trik cara menyelesaikan masalah tersebut. Berbagai poin yang disajikan dalam modul  ini sebenarnya bukanlah hal yang baru, sering kali kami menerapkannya di sekolah tetapi dengan tuntunan yang jelas dan detail seperti ini akan sangat membantu memberikan pedoman yang jelas dan juga memberikan cara mengevaluasi tindakan yang sudah diambil sehingga refleksi yang dilakukan oleh guru bisa lebih jelas. Disamping itu modul ini juga memberi kesempatan kepada guru untuk menyusun umpan balik yang lebih baik setelah tahapan evaluasi tindakan tadi karena tuntunan yang diberikan benar-benar detail dan terinci dengan baik.Modul ini membuat kapasitas kita sebagai pemimpin pembelajaran ter-upgrade dengan baik.

ARTIKEL

GURU KITA TERSERANG MRS.PUFF SYNDROME

Oleh: B.Hikmah Widiawati, M.Pd.

Anda pasti heran dan bertanya-tanya penyakit apakah Mrs.Puff syndrome ini, dan apa hubungannya dengan guru? Jika anda penggemar film kartun maka anda akan ingat tokoh Mrs Puff adalah guru atau instruktur mengemudi Spongebob di kartun berjudul Spongebob Squarepants. Lalu mengapa dia menjadi syndrome untuk guru-guru di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan itu akan membuat bahasan ini menjadi seru dan menarik.

Dalam film tersebut tokoh Spongebob digambarkan sebagai anak yang bodoh tetapi ulet dan pantang menyerah. Dia mempunyai cara pandang tersendiri terhadap semua persoalan. Hal ini membuat karakternya sangat menonjol karena sering kali berpikir “out of the box”. Namun hal ini juga yang membuat dia terlihat bodoh dan culun. Sementara Mrs Puff adalah guru/instruktur yang baik hati namun dibuat tidak berdaya oleh tingkah polah Spongebob. Siswanya yang satu ini sangat rajin datang ke kelas dan tekun mengerjakan semua tugas yang diberikan Mrs Puff. Tapi tugas tersebut dikerjakan sesuai dengan pemahamannya terhadap instruksi yang diberikan gurunya, padahal maksud instruksi Mrs.Puff tidak sesuai dengan pemahamannya tentang tugas tersebut. Dan sepanjang proses belajar mengajar berlangsung dua orang ini selalu tidak “nyambung” satu sama lain. Mereka berjalan sendiri dengan kedua-duanya mempertahankan konsep mereka masing-masing. Mrs. Puff tidak mencoba memahami cara berpikir Spongebob, disisi lain Spongebob pun tidak mampu mengerti maksud sang guru. Ketika Mrs.Puff melakukan tes akhir, Spongebob selalu menjadi siswa yang tertinggal di kelas. Nilai tesnya selalu menjadi yang paling rendah.

Akhirnya suatu ketika Mrs. Puff sampai pada kesimpulan bahwa dia harus meluluskan Spongebob dengan cara apapun. Singkat cerita Mrs.Puff memberikan tes khusus kepada Spongebob supaya bisa mencapai nilai kelulusan yang ditentukan oleh sekolah mengemudi tersebut. Dengan cara ini Spongebob bisa mndapat standar nilai lulus yang ditentukan. Dia mendapatkan Surat Izin Mengemudi yang dia impi-impikan dan Mrs.Puff merasa lega dan terbebas dari beban berat yang dia sandang dalam mengajar Spongebob. Keduanya merasa senang dan bahagia.

Namun ternyata masalah tidak selesai dengan begitu saja, ketika Spongebob merayakan keberhasilannya mendapatkan S.I.M baru dengan mengendarai “carboat”-nya berkeliling Bikini bottom masalah yang sebenarnya mulai muncul. Spongebob menabrak dan menyerempet semua mobil yang berpapasan dengannya dan berakhir di kantor polisi. Polisi Bikini bottom mengusut kenapa anak yang belum cakap mengemudi bisa mendapatkan S.I.M. Mendengar hal tersebut Mrs.Puff langsung ke kantor polisi dan mengatakan bahwa Spongebob adalah siswanya dan masih mengemudi dalam pengawasannya. Alhasil polisi menetapkan Mrs.Puff bersalah karena melalaikan tugas dan tanggung jawabnya sebagai guru/instruktur. Untuk kesalahan tersebut Mrs.Puff dihukum penjara dan hukuman tambahan harus memberikan pelajaran mengemudi kepada Spongebob sampai Spongebob benar-benar lulus.

Jika dipikir-pikir kisah diatas sebenarnya tidak jauh berbeda dengan keadaan yang dihadapi guru di dalam kelas. Selama berabad-abad hubungan guru dan murid menjadi hubungan sebab akibat yang terus dipelajari dan mengusik alam bawah sadar kita. Banyak siswa kita menempati posisi seperti Sponge Bob, selalu berusaha dengan sungguh-sungguh namun hasil yang didapatkannya  tidak sesuai dengan target yang diberikan gurunya. Hal tersebut mungkin bukan karena dia bodoh atau tidak mampu belajar, akan tetapi mungkin karena gurunya tidak memberi kesempatan kepadanya untuk mengekspresikan dirinya seperti yang dia inginkan. Atau mungkin dia jadi tidak berusaha sungguh-sungguh, dia menjadi uring-uringan dan tidak focus, dan tidak tertarik dengan pelajaran yang disajikan guru didalam kelas. Kenapa demikian? Timbul pertanyaan yang menggigit kesadaran kita.

Ada banyak factor yang mungkin bisa menjadi penyebab hal ini. Menurut Ki Hadjar Dewantara, Tuntutan kodrati anak selalu ingin merdeka sejak dari kandungan, menangis bila kehausan, hingga jiwa merdeka saat dewasa . Kemerdekaan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikaan diri sesuai dengan keinginannya, kemerdekaan juga menuntun siswa mengeksplorasi bakat dan minat yang terpendam dalam diri mereka. Hak anak untuk mengatur dirinya sendiri tanpa mengesampingkan syarat tertib damainya hidup bermasyarakat.Berlainan dengan konsep dari Maria Montessori dengan konsep Absolute Vrijheid (jiwa merdeka mutlak) sejajar dengan liberalisme.

Sistem among melarang pelaksanaan hukuman dan pemaksaan dalam kegiatan belaja mengajar karena akan menghambat pertumbuhan jiwa merdeka sang anak. Sanksi kepada siswa harus seimbang, netral dan adil. Sikap suka kinder spellen sebagai “embrio jiwa merdeka” siswa melancarkan proses Tringa (Ngerti, Ngrasa, Nglakoni) selaras dengan trilogi Cipta, Rasa, Karsa (Globaliteit Psychologie).

Menurut Ki Priyo dari Majelis Perguruan Taman Siswa, Trilogi Pendidikan Taman siswa yang pertama yaitu “Tut wuri handayani” mengandung prinsip memerdekakan siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya, sedang guru/pamong membina dari belakang tidak boleh sekedar mendikte. Diutamakan pada tingkat Taman Muda atau sekarang dikenal dengan Sekolah Dasar. Sedangkan yang kedua adalah “Ing Madya Mangun Karsa” mendorong siswa agar dapat proaktif berbaur dan memotivasi siswa dalam proses belajar mengajar, guna aktif meningkatkan kualitas pendidikan (setiakawan, kerjasama, kreatif, inovasi, melakukan praktek) pada tingkat Pendidikan Dasar hingga Perguruan Tinggi. Dan yang ketiga “Ing Ngarso Sung Tulodho” yang berarti memberi teladan kepada siswa agar dapat menjadi contoh bagi sesama dan yuniornya. Pengabdian kepada sesama dan masyarakat dengan semboyan ilmu amaliah dan amal ilmiah, demi kemaslahatan masyarakat luas bukan sekedar untuk golongan atau pribadinya.

Ada hal penting yang juga menjadi panduan diperguruan Taman Siswa yang akan  sangat bermanfaat untuk para pendidik mengembangkan pembelajaran di zaman yang tidak menentu ini. Panduan itu adalah  “Trikon” . Trikon ini digunakan sebagai Kiat Mengelola Kebudayaan Bangsa .

Adapun yang dimaksudkan dengan Trikon ini adalah, yang pertama konvergen yang berarti tidak menutup diri terhadap kebudayaan dunia, yang berikutnya adalah konsentris yang artinya berpegang teguh terhadap kebudayaan sendiri, memperkuat kepribadian nasional dan yang terakhir adalah mengolah budaya bangsa secara berkesinambungan dari masa lalu masa kini dan masa yang akan datang. Sehingga pada akhirnya nanti tercapailah tujuan memanusiakan manusia.Seperti yang selalu diucapkan Ki Hajdjar Dewantara yaitu cita-cita lahir batin manusia adalah hidup salam dan bahagia, selamat lahirnya dan bahagia batinnya, dicapai dengan kecukupan lahirnya dan bebas merdeka jiwanya, bebas dari gangguan lahir batin dan ketakutan.

Menilik dari bahasan diatas betapa selama ini banyak hal yang mungkin belum sepenuhnya kita lakukan sebagai guru. Kita tidak benar-benar mengenali siswa siswi yang kita didik dan ajar. Kita cenderung menempatkan diri sebagai Mrs. Puff yang tidak mengenali sifat dan karakter SpongeBob dan berasumsi bahwa siswa dan siswi kita sudah nyaman, bahagia dan paham dengan apa yang kita sampaikan. Disatu sisi siswa dan siswi kita tidak berani megungkapkan keadaan yang sebenarnya kepada gurunya tapi memakai gaya komunikasi yang berbeda seperti malas belajar, tidur di kelas, bolos bahkan tawuran.

Ketidaknyambungan komunikasi ini kita harapkan berhenti sampai disini. Mari kita memulai menjadi guru yang belajar memerdekakan siswa siswi kita untuk mengembangkan bakat, minat dan kegemaran mereka dengan mengarahkan mereka secara sungguh-sungguh.Membimbing mereka menjadi orang-orang yang bahagia secara lahir bathin, bijaksana dalam keunikannya serta menghargai keberagamannya sebagai anugrah terindah dari sang maha kuasa.Dengan demikian mereka akan bisa membuat bangsa ini berdiri tegak secara terhormat dalam  kancah pergaulan dunia yang menjunjung tinggi kemanusiaan. Pada saat itu barulah kita bisa bernafas lega dan mendorong generasi kita untuk terus merdeka belajar.

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus your own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus your own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus your own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.

Create your website with WordPress.com
Get started